Minggu, 11 Juli 2021

laporan bacaan 10

Nama : Norman safutra

Nim    : 11901045

Kelas  : PAI 4D

Pokok Bahasan : Pengertian Kompetensi Guru

Buku : (1). J.B Situmorang dan Winarno, Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Pendidik, (Klaten: Macanan Jaya Cemerlang,2008). (2). Jejen Musfah, Peningkatan Kompetensi Guru : Melalaui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik,(Jakarta: Kencana, 2012). (3). Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional: Strategi Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Globalisasi,(Jakarta: Erlangga.2013). (4). E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2013).


PENGERTIAN KOMPETENSI GURU

Saya ingin melaporkan terkait dengan buku yang telah saya baca yaitu ada 4 buku, dari keempat buku tersebut membahas tentang pengertian kompetensi guru, serta pendapat para ahli yang dapat saya uraikan dengan gaya bahasa yang berbeda namun tidak mengubah makna yang terkandung di dalamnya, dan juga disertai unsur-unsur yang terkandung dalam konsep kompetensi, maka dapat saya uraikan pada susunan kalimat dibawah ini :

Kompetensi dapat diartikan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan, sehingga kemudian untuk kerja yang dicapai setelah menyelesaikan suatu program pendidikan.

Menurut Echols dan Shadly dapat saya paparkan bahwa Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran di dalam dunia pendidikan. Maka dari itu kompetensi dapat diperoleh melalui pendidikan dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar yang telah tersedia banyak dimasa ini. Sehingga tugas guru adalah harus menguasai materi pembelajaran dan kemudian memerintahkan kepada peserta didiknya untuk mencari sumber pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan oleh guru, sehingga kemudian dapat berdiskusi bersama dalam ruang lingkup kelas.

Kompetensi pada dasarnya merupakan deskripsi mengenai apa yang dapat dilakukan seseorang dalam bekerja, serta mengenai wujud dari pekerjaan tersebut yang dapat terlihat. Sekiranya untuk dapat melakukan suatu pekerjaan, seseorang harus memiliki kemampuan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang relevan dengan bidang pekerjaannya.

Jika seseorang itu ingin disebut kompeten dalam bidangnya seperti pengetahuan, keterampilan dan sikapnya, serta hasil kerjanya sesuai standar (ukuran) yang ditetapkan dan/atau diakui oleh lembanganya/pemerintah.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa: “kompetensi merupakan suatu seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang seharusnya dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya”. Maka dapat saya pahami dari undang-undang tersebut bahwa guru ataupun dosen dituntut untuk memiliki penguasaan terhadap pengetahuan dalam meningkatkan keterampilannya sebagai guru profesional demi tercapainya suatu pembelajaran tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat saya simpulkan bahwa pengertian kompetensi guru adalah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dalam melaksanakan pekerjaannya itu sebaiknya dapat dilakukan oleh seorang guru.

Dapat saya pahami dari pendapat Mulyasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya standar kompetensi guru yaitu untuk mendapatkan guru yang baik dan profesional, yang memiliki kompetensi secara khusus untuk melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah, serta tujuan pendidikan pada umumnya, sehingga sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas guru dituntut untuk profesional dalam menjalankan perannya sebagai pengajar, oleh karenanya guru harus bisa menyesuaikan dengan tuntunan zaman dan yang dibutuhkan masyarakat, dalam hal ini yaitu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus semakin berkembang.

Beberapa unsur atau elemen yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu :

1) Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran di bidang kognitif. Misalnya, seorang guru harus mengetahui cara melaksanakan kegiatan identifikasi, penyuluhan, dan proses pembelajaran terhadap warga belajar.

2) Pengertian (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan efektif yang dimiliki siswa. Misalnya, seorang guru yang akan melaksanakan kegiatan harus memiliki pemahaman yang baik tentang kondisi dan keadaan warga belajar di lapangan, sehingga tujuan yang diharapkan dapat melaksanakan program kegiatan secara baik dan efektif.

3) Keterampilan (skill), yaitu kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, guru yang memiliki kemampuan untuk menyusun alat peraga pendidikan secara sederhana.

4) Nilai (value), yaitu suatu norma yang telah diyakini menyatu dalam diri individu secara psikologis.

5) Minat (interest), yaitu keadaan yang mendasari motivasi individu, keinginan yang berkelanjutan, dan orientasi psikologis. Misalnya, guru yang baik selalu memberikan media pembelajaran yang baik kepada warga belajar dalam hal membina dan memotivasi mereka supaya dapat belajar sebagaimana yang diinginkan agar tercapainya suatu tujuan belajar.


laporan bacaan 9

Nama : Norman Safutra

Nim    : 11901045

Kelas  : PAI 4 D


 Puji dan Syukur kepada Allah SWT, karena atas pertolongan-Nya Tugas Laporan Bacaan ini dapat terselesaikan. Laporan Bacaan ini saya sampaikan kepada Ibu Farninda Aditya, M.Pd, selaku pembina mata kuliah tersebut. Adapun buku yang dijadikan sebagai Tugas Laporan Bacaan, adalah:

Judul Buku: Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek

Penulis: Abdullah Idi, M.Ed.

Penerbit: Rajawali Pers

Cetakan: Pertama, 1999

Tebal: 219 Halaman


BAB 1

KONSEP KURIKULUM


A. Kedudukan Kurikulum Dalam Pendidikan

Pendidikan berintikan interaksi antara pendidikan dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis. Interaksi pendidikan antara orang tua dengan anaknya juga sering tidak disadari. Dalam kehidupan keluarga interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat, setiap kali orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerja sama dengan anak-anaknya. Sedangkan pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikan guru. Guru melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan rencana dan persiapan yang matang. Mereka mengajar dengan tujuan yang jelas, bahan-bahan yang telah disusun secara sistematis dan rinci, dengan cara dan alat-alat yang telah dipilih dan dirancang secara cermat. Dalam lingkungan masyarakat pun terjadi berbagai bentuk interaksi pendidikan, dari yang sangat formal yang mirip dengan pendidikan sekolah dalam bentuk kursus-kursus, sampai dengan yang kurang formal seperti ceramah, serasehan, dan pergaulan kerja. Gurunya juga bervariasi, dari yang memiliki latar belakang pendidikan khusus sebagai guru, sampai dengan yang melaksanakan tugas sebagai pendidik karena pengalaman.


B. Konsep Kurikulum

Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana dengan kurikulum yang fungsional. Sedangkan Beauchamp lebih memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran.


C. Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan

Ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu pendidikan klasik, pendidikan pribadi, pendidikan interaksional, dan teknologi pendidikan.

1. Pendidikan Klasik

Pendidikan klasik atau classical education dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan berfungsi memelihara, mengawetkan, dan meneruskan semua warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Ada dua model konsep pendidikan klasik, perenialisme dan esensialisme. Parenialisme maupun esensialisme mempunyai pandangan yang sama tentang masyarakat, bahwa masyarakat bersifat statis. Pendidikan lebih menekankan pada humanitas, pembentukan pribadi, dan sifat-sifat mental. Konsep filosofis, lebih banyak mewarnai pendidikan ini.

2. Pendidikan Pribadi

Pendidikan pribadi (personalized education) lebih mengutamakan peranan siswa. Konsep pendidikan ini bertolak dari anggapan dasar bahwa sejak dilahirkan, anak telah memiliki potensi-potensi, baik potensi untuk berpikir, berbuat, memecahkan masalah, maupun untuk belajar dan berkembang sendiri. Pendidikan adalah ibarat persemaian, berfungsi menciptakan lingkungan yang menunjang dan terhindar dari hama-hama. Tugas guru, seperti halnya seorang petani adalah mengusahakan tanah yang gembur, pupuk, air, udara, dan sinar matahari. Guru adalah pembimbing, pendorong (motivator), fasilitator, dan pelayan bagi siswa. Teori ini juga memiliki dua aliran, yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Tokoh pendahulu pendidikan progresif adalah Francis Parker yang membawa aliran ini dari Eropa ke Amerika. Aliran ini menjadi lebih terkenal di Amerika berkat percobaan-percobaan yang dilakukan John Dewey dengan sekolah-sekolah laboratoriumnya. John Dewey menerapkan prinsip belajar sambil berbuat (learning by doing).

3. Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Keduanya juga mempunyai perbedaan, sebab yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah pembentukan dan penguasaan kompentensi bukan pengawetan dan pemiliharaan budaya lama. Kurikulum pendidikan teknologi menekankan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis.

4. Pendidikan Interaksional

Konsep pendidikan ini bertolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya, manusia membutuhkan orang lain, selalu bersama, berinteraksi, dan bekerja sama. Dalam hal ini, guru berperan menciptakan situasi dialog dengan dasar saling mempercayai dan saling membantu.


BAB 2

TEORI KURIKULUM


A. Apakah Teori Itu?

Kesepakatan yang telah diterima secara umum, teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (a set of statement) yang menjelaskan serangkaian hal. Ada tiga kelompok karateristik utama sistem pernyataan suatu teori. Pertama, pernyataan dalam suatu teori bersifat memadukan. Kedua, berisi kaidah-kaidah umum. Ketiga bersifat meramalkan. Menurut Rose, karakteristik pernyataan (set of statement) meliputi definisi, asumsi, dan kaidah-kaidah umum.

Teori menjelaskan suatu kejadian, sedangkan tugas seorang teoretisi adalah merumuskan istilah-istilah dan pernyataan yang akan menjelaskan isi bagian-bagian dan hubungan di antara bagian-bagian tersebut. Hal yang sangat penting dalam pekerjaan seorang ilmuwan adalah pengunaan istilah-istilah. Ia dituntut untuk mengunakan istilah dengan makna yang tepat dan konsisten. Ada tiga fungsi teori yang sudah disepakati oleh para ilmuwan, yaitu: mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi. Brodbeck menambahkan fungsi lain. “A theory not only explains and predict, it also unifies phenomena”.


B. Teori Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu ilmu terapan (applied science), yaitu terapan dari ilmu atau disiplin lain terutama filsafat, psikologi, sosiologi, dan humanitas. Sebagai ilmu terapan perkembangan teori pendidikan berasal dari pemikiran-pemikiran filosofis-teoretis, penelitian empiris dalam praktik pendidikan. Yang menjadi subteori dari pendidikan adalah teori-teori dalam kurikulum, pengajaran, evaluasi, bimbingan-konseling, dan administrasi pendidikan. Teori pendidikan selalu menyangkut tentang teori nilai, etika, yang keduanya merupakan bahasan dari bidang filsafat.


C. Teori Kurikulum

1. Konsep Kurikulum

Konsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum: kurikulum sebagai subtansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi. Kurikulum sebagai substansi, suatu kurikulum dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid disekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Kurikulum sebagai suatu system, sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum.

2. Perkembangan Teori Kurikulum

Perkembangan teori kurikulum tidak dapat dilepaskan dri sejarah perkembangannya. Perkembangan kurikulum telah dimulai pada tahun 1890 dengan tulisan Charles dan McMurry, tetapi secara definitive berawal pada hasil karya Franklin Babbit tahun 1918. Babbit sering dipandang sebagai ahli kurikulum yang pertama, ia perintis pengembangan praktik kurikulum.

3. Sumber Pengembangan Kurikulum

Dari kajian sejarah kurikulum, kita mengetahui beberapa hal yang menjadi sumber atau landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. Karna sekolah mempersiapkan anak bagi kehidupan orang dewasa. Kurikulum, terutama isi kurikulum di ambil dari kehidupan orang dewasa. Sumber lain penyususan kurikulum adalah anak. Dalam pendidikan atau pengajaran, yang belajar adalah anak. Sosial-politik juga menjadi sumber penentuan kurikulum.

4. Desain Dan Rekayasa Kurikulum

Telah diutarakan sebelumnya bahwa ada dua subteori dari teori kurikulum, yaitu desain kurikulum dan rekayasa kurikulum. Ada dua hal yang perlu ditambahkan dalam desain kurikulum: Pertama, ketentuan-ketentuan tentang bagaimana penggunaan kurikulum, serta bagaimana mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan masukan dari pengalaman; Kedua, kurikulum itu di evaluasi, baik bentuk desainnya maupun sistem pelaksanaannya.


BAB 3

LANDASAN FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS

PENGEMBANGAN KURIKULUM


A. Landasan Filosofis

Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengatahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir yaitu berpikir secara sistematis, logis dan mendalam. Pemikiran demikian dalam fisafat sering di sebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai keakar-akarnya. Dalam tulisan ini akan dikemukakan salah satu pandangan tentang filsafat pendidikan, yaitu pandangan dari John Dewey.

1. Dasar-Dasar Filsafat Dewey

Ciri utama filsafat dewey adalah konsepsinya tentang dunia yang selalu berubah. Prinsip ini membawa konsekuensi yang jauh, bagi Dewey tidak ada yang menetap dan abadi. Ciri lain filsafat Dewey adalah anti dualistik. Pandangannya tentang dunia adalah monistik dan tidak lebih dari sebuah hipotesis.

2. Teori Pendidikan Dewey

Pendidikan menurut John Dewey yaitu pendidikan berarti perkembangan, perkembangan sejak lahir hingga menjelang kematian. Menurut Dewey perkembangan dimulai dari pertumbuhan, syarat pertumbuhan adalah adanya kebelumdewasaan (immaturity), yang berarti kemampuan untuk berkembang. Ada dua sifat dari immaturity yakni kebergantungan dan plastisitas. Kebergatungan berarti kemampuan untuk menyatakan hubungan social, dan ini akan menyebabkan individu matang dalam hubungan sosial.


B. Landasan Psikologis

Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaitu antara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainya.

1. Psikologi Perkembangan

Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa. Dalam psikologi perkembangan ada yang metode dan teori perkembangan. Metode Dalam Psikologi Perkembangan, pengetahuan tentang perkembangan individu di peroleh melalui studi yang bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik, ataustudi kasus. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari saat lahir sampai dengan dewasa, seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Olson. Teori Perkembangan, ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu yaitu pendekatan pertahapan, pendekatan diferensial, dan pendekatan ipsatif.

2. Psikologi Belajar

Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar. Banyak sekali definisi tentang belajar. Secara sederhana, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Belajar berhubungan dengan congnitive. Istilah congnitive berasal dari bahasa Latin “cognoscre” yang berarti mengetahui (to know). Aspek ini berkenaan dengan bagaimana individu dapat memahami dirinya dan lingkungannya.


BAB 4

LANDASAN SOSIAL – BUDAYA, PERKEMBANGAN ILMU

DAN TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM


A. Pendidikan Dan Masyarakat

Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda dengan lingkungan masyarakat lain, karena adanya perbedaan system sosial-budaya, lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada.


B. Perkembangan Masyarakat

Salah satu ciri dari masyrakat adalah selalu berkembang. Mungkin pada masyarakat tertentu perkembangannya sangat cepat, tetapi pada masyarakat lainya agak lambat bahkan lambat sekali. Perkembangan teknologi, terutama industri, transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronika sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat. Perkembangan dalam masyarakat mempengaruhi perubahan dalam pola pekerjaan, peranan wanita dan kehidupan keluarga.


C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sejak abad pertengahan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Masa setelah abad pertengahan sering disebut zaman modern. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini banyak didasari oleh penemuan dan hasil pemikiran para filsuf purba, seperti Thales, Phytagoras, Leucipos, Demokritos, Socratos,dll.


D. Perkembangan Teknologi

Dari para ahli, kita sering mendengar pernyataan bahwa ilmu bukan hanya untuk ilmu. Pernyataan tersebut diartikan bahwa pengembangan suatu ilmu pengetahuan tidak hanya ditujukan kepada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan juga diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada bidang-bidang kehidupan atau ilmu yang lainnya. Perkembangan teknologi terbesar dalam pertengahan abad ke-20 berkenaan dengan penjelajahan angkasa luar. Temuan-temuan lainnya dibidang fisika, kimia dan matematika mengembangkan teknologi ruang angkasa dan kemiliteran.


E. Pengaruh Perkembangan Ilmu Dan Teknologi

Pengaruh IPTEK cukup luas, meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, etika, dan estetika, bahkan keamanan dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Bidang yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat adalah: komunikasi, transportasi, mekanisasi industri dan pertanian, serta persenjataan.


BAB 5

MACAM-MACAM MODEL KONSEP KURIKULUM


A. Kurikulum Subjek Akademis

Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Kurikulum subjek akademis tidak hanya menekankan materi yang disampaikan, namun juga memperhatikan proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Kurikulum subjek akademis mempunyai ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi, isi dan evaluasi. Dengan tujuan memberi pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide dan proses penelitian. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Dalam kurikulum ini, para pengembang bermasalah dalam memilih materi dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Para pengembang kurikulum lebih mengutamakan penyusunan bahan secara logis dan sistematis daripada menyelaraskan kemampuan berpikir anak.


B. Kurikulum Humanistik

Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi, yaitu John Dewey dan J.J. Rousseau. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Aliran ini lebih menekankan bagaimana mengajar siswa, dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Kurikulum konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen, yang ingin menyatukan segi-segi afektif dengan segi-segi kognitif. Pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung segi afektif. Kurikulum konfluen mempunyai beberapa ciri utama yaitu: partisipasi, integrasi, relevansi, pribadi anak dan tujuan.


C. Kurikulum Rekonstruksi Sosial

Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Para rekonstruksionis sosial tidak mau terlalu menekankan kebebasan individu. Mereka ingin meyakinkan murid-murid bagaimana masyarakat membuat warganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan pribadi warganya melalui konsensus sosial.


D. Teknologi Dan Kurikulum

Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan. Teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem.


BAB 6

ANATOMI DAN DESAIN KURIKULUM


A. Komponen-Komponen Kurikulum

Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi, yakni kesesuain kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi dan perkembangan masyarakat serta kesesuaian antar komponen-komponen kurikulum. Beberapa komponen penting yang harus diperhatikan dalam kurikulum, yakni: tujuan, bahan ajar, strategi mengajar, media mengajar, evaluasi pengajaran serta penyempurnaan pengajaran.


B. Desain Kurikulum

Kurikulum menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal (penyusunan dari lingkup isi kurikulum) dan vertical (penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran).


BAB 7

PROSES PENGAJARAN


A. Keseimbangan Antara Isi Dan Proses

Dalam uraian model-model konsep kurikulum, dan dalam macam desain kurikulum, masalah isi dan proses pengajaran selalu menjadi tema dan titik tolak. Hal itu disebabkan kedudukan kedua kurikulum tersebut sangat penting.


B. Isi Kurikulum

Di Amerika Serikat, ada dualisme tujuan pendidikan yang membutuhkan keseimbangan, yaitu antara kegunaan dengan keindahan. Sekolah diharapkan dapat mengajarkan semua yang berguna dan semua yang indah. Dalam proses pendidikan, ada empat hal pokok penting, yakni: peranan struktur bahan, penekanan proses belajar, kesiapan belajar, dorongan belajar.


C. Proses Belajar

Belajar merupakan cara menguasai pengetahuan dan cara menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur ide yang telah ada. Dalam proses belajar, pelajar harus mampu menerima keseluruhan bahan pelajaran dan harus disajikan pada si pelajar dalam bentuk yang sudah sempurna. Belajar akan menghasilkan konsep-konsep, ide-ide baru yang mempunyai makna, penuh arti, jelas, nyata perbedaannya dengan yang lain.


D. Kesiapan Belajar

1. Perkembangan Intelek

Hasil penelitian berkenaan dengan perkembangan intelek anak menunjukkan, bahwa tiap tingkat perkembangan mempunyai karakterristik tertentu tentang cara anak melihat lingkungannya dan cara memberi arti bagi dirinya sendiri. Menurut Piaget, ada empat tingkat perkembangan anak: Tingkat Pertama, adalah tingkat sensory motor, masa lahir sampai dua tahun merupakan masa perkembangan kemampuan bergerak dan merespon terhadap rangsangan. Tingkat Kedua, masa dua sampai tujuh tahun disebut tingkat preoperasional. Tugas perkembangan anak pada masa ini terutama membentuk hubungan antara pengalaman dengan kegiatan. Tingkat Ketiga, masa antara 7 sampai 11 tahun, merupakan masa anak sekolah, disebut juga tingkat “concrete operational”. Tingkat Keempat, masa antara 11 sampai dengan 14 tahun, merupakan tingkat “formal operation”.

2. Kegiatan Belajar

Belajar sesuatu bidang pelajaran, minimal meliputi tiga proses. Pertama, proses mendapatkan atau memperoleh informasi baru untuk melengkapi atau menggantikan informasi yang telah dimiliki atau menyempurnakan pengetahuan yang telah ada. Kedua, transformasi, yaitu proses memanipulasi pengetahuan agar sesuai dengan tugas baru. Transformasi meliputi cara-cara mengolah informasi untuk sampai pada kesimpulan yang lebih tinggi. Ketiga, proses evaluasi untuk mengecek apakah manipulasi sudah memadai untuk dapat menjalankan tugas.

3. Spiral Kurikulum

Jika prinsip perkembangan anak telah diperhatikan, bahan ajar telah disusun dalam urutan yang logis dan cukup mendorong perkembangan dan keadaan memungkinkan untuk memperkenalkannya seawal mungkin; apakah anak akan menjadi orang dewasa dan berpengetahuan.

4. Minat Dan Motif Belajar

Beberapa hal dapat diusahakan untuk membangkitkan motif belajar pada anak yaitu pemilihan bahan pengajaran yang berarti bagi anak, menciptakan kegiatan belajar yang dapat membangkitkan dorongan untuk menemukan, menerjemahkan apa yang akan diajarkan dalam bentuk pikiran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.


BAB 8

PENGEMBANGAN KURIKULUM


A. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Suatu kurikulum diharapkan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat.

1. Prinsip-Prinsip Umum

Beberapa prinsip umum kurikulum: Relevansi, menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat; Fleksibilitas, fleksibel; Kontinuitas, yaitu kesinambungan; Praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana; Efektivitas, keberhasilannya tetap harus diperhatikan.

2. Prinsip-Prinsip Khusus

Beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dimana kurikulum harus berkenaan dengan: tujuan pendidikan; pemilihan isi pendidikan; pemilihan proses belajar mengajar; pemilihan media dan alat pengajaran; pemilihan kegiatan penilaian.


B. Pengembang Kurikulum

1. Peranan Para Administrator Pendidikan

Para administrator pendidikan terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peran para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course yang dituntut.

2. Peranan Para Ahli

Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau lokal, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang digariskan di tingkat pusat belum tentu dapat dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.

3. Peranan Guru

Guru memegang peranan yang cukup penting baik di dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Dia perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Dia juga komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat belajar, pencoba, pembimbing disekolah dan masyarakat.

4. Peranan Orang Tua Murid

Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal: pertama dalam penyususnan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yang mempunyai latar belakang yang memadai. Orang tua perlu mengamati kegiatan belajar dirumah dan laporan sekolah anak.


C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

1. Perguruan Tinggi

Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari Perguruan Tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di PTKeguruan.

2. Masyarakat

Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat homogen atau heterogen, masyarakat kota atau desa, petani, pedagang atau pegawai, dan sebagainya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat.

3. Sistem Nilai

Dalam kehidupan masyarakat terdapat sistem nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai yang akan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum.


D. Artikulasi Dan Hambatan Pengembangan Kurikulum

Artikulasi dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordinasi segala pengalaman belajar”. Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak diperlukan, menghilangkan duplikasi, merevisi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan dan kesinambungan kurikulum. Hambatan yang sering muncul dalam pengembangan kurikulum terdapat pada guru yang kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hambatan lain datang dari masyarakat yang tidak mendukung pembiayaan yang berakibat langsung pada pengembang kurikulum.


E. Model-Model Pengembangan Kurikulum

Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Sekurang-kurangnya dikenal delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: the administrative (line staff) model, the grass roots model, Beauchamp’s system, the demonstration model, Taba’s inverted model, Roger’s interpersonal relations model, the systematic action research model, dan emerging technical model.


BAB 9

EVALUASI KURIKULUM


A. Evaluasi Dan Kurikulum

Evaluasi kurikulum sukar dirumuskan secara tegas, hal itu disebabkan beberapa faktor: Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus berubah; Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan konsep kurikulum yang digunakan juga berubah; Evaluasi dan kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya juga berubah. Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang berdiri sendiri.

Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus-menerus. Pada tingkat yang sangat informal evaluasi kurikulum berbentuk perkiraan, dugaan atau pendapat tentang perubahan-perubahan yang telah dicapai oleh program sekolah. Pada tingkat yang lebih formal evaluasi kurikulum meliputi pengumpulan dan pencatatan data, sedangkan pada tingkat yang sangat formal berbentuk pengukuran berbagai bentuk kemajuan ke arah tujuan yang telah ditentukan.


B. Konsep Kurikulum

Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas teori-teori yang lebih menekankan pada isi kurikulum, pada situasi pendidikan serta pada organisasi kurikulum.


C. Implementasi dan Evaluasi Kurikulum

Konsep kurikulum yang menekankan isi, memberikan perhatian besar pada analisis pengetahuan baru yang ada, konsep situasi menuntut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar, dan konsep organisasi memberi perhatian besar pada struktur dan sekuens belajar. Perbedaan-perbedaan dalam rancangan tersebut mempengaruhi langkah selanjutnya.


D. Peranan Evaluasi Kurikulum

Peranan evaluasi dalam kurikulum khususnya pendidikan, umumnya minimal berkenaan dengan tiga hal, yaitu: evaluasi sebagai moral judgement, penentuan keputusan, dan konsesus nilai. Konsep utama dalam evaluasi adalah nilai. Hasil dari suatu evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. Evaluasi bukan merupakan suatu proses tunggal, minimal meliputi dua kegiatan, pertama mengumpulkan informasi dan kedua menentukan suatu keputusan.


E. Ujian Sebagai Evaluasi Sosial

Keberhasilan dalam ujian pengetahuan dan kemampuan skolastik, selama bertahun-tahun ditentukan oleh kemampuan mengingat fakta. Kecenderungan ini bukan saja didasari oleh teori psikologi lama, yang memandang bahwa otak yang lebih baik mampu menguasai fakta lebih banyak, tetapi juga oleh keadaan masyarakat di mana buku-buku sumber (teks) pengetahuan secara relatif tidak berubah selama dua abad.


F. Model-model Evaluasi Kurikulum

1. Evaluasi Model Penelitian

Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologis serta eksperimen lapangan. Tes psikologis atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes inteligensi yang ditujukan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes hasil belajar yang mengukur perilaku skolastik.

2. Evaluasi Model Objektif

Perbedaan model objektif dengan model komparatif adalah dalam dua hal: Pertama, dalam model objektif, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Para evaluator juga mempunyai peranan menghimpun pendapat-pendapat orang luar tentang inovasi kurikulum yang dilaksanakan. Kedua, kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat objektif (tujuan khusus). Keberhasilan pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan tersebut.

3. Model Campuran Multivariasi

Evaluasi model perbandingan dan model Tylor dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut.


BAB 10

GURU DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


A. Guru Sebagai Pendidik Profesional

Sebagai pendidik professional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980) telah merumuskan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dan mengelompokkannya atas tiga dimensi umum kemampuan, yaitu: Kemampuan profesional, yang mencakup: Penguasaan materi pelajaran, mencakup bahan yang akan diajarkan dan dasar keilmuan dari bahan pelajaran tersebut; Penguasaan landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan; Penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. Kemampuan sosial, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja dan lingkungan sekitar. Kemampuan personal, yang mencakup: Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan; Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dimiliki guru; Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai anutan dan teladan bagi para siswanya.

B. Guru Sebagai Pembimbing Belajar

Dalam konsep pendidikan klasik, guru berperan sebagai penerus dan penyampai ilmu, sedangkan dalam konsep teknologi pendidikan, guru adalah pelatih kemampuan. Dalam konsep interaksional guru berperan sebagai mitra belajar, sedangkan dalam konsep pendidikan pribadi, guru lebih berperan sebagai pengarah, pendorong, dan pembimbing.


C. Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum

Dilihat dari segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral-desentral. Dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi, kurikulum disusun oleh sesuastu tim khusus di tingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untuk seluruh negara, daerah, atau jenjang/jenis sekolah.

1. Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum Yang Bersifat Sentralisasi

Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai peranan dalam perencanaan, dan evaluasi kurikulum yang bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Guru menyusun kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, satu catur wulan, beberapa minggu ataupun beberapa hari saja.

2. Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum Yang Bersifat Desentralisasi

Kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini diperuntukkan bagi suatu sekolah atau lingkungan wilayah tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah atau sekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian kurikulum terutama isinya sangat beragam, tiap sekolah atau wilayah mempunyai kurikulum sendiri, tetapi kurikulum ini cukup realistis.



D. Pendidikan Guru

1. Masalah Pendidikan Guru

Masalah pendidikan guru tidak dapat dilepaskan dari masalah pendidikan secara keseluruhan. Dalam pendidikan di Indonesia kita menghadapi dua masalah besar, yaitu masalah kuantitas dan kualitas pendidikan. Masalah pertama kuantitas pendidikan, berkenaan dengan penyediaan fasilitas belajar bagi semua anak usia sekolah. Hal itu berkenaan dengan penyediaan ruang kelas, gedung dan peralatan sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Dari sisi kualitas, masyarakat dan para ahli pendidikan banyak yang mensinyalir bahwa mutu pendidikan dewasa ini belum seperti yang diharapkan.

2. Standardisasi Pendidikan Guru

Ada beberapa prinsip yang perlu dijadikan pegangan dalam pengembangan pendidikan guru. Pertama, syarat untuk masuk ke lembaga pendidikan guru (tingkat universitas) harus standar, tetapi prosedurnya cukup fleksibel sehingga dapat menjaring calon-calon yang potensial dan cocok. Kedua, program pendidikan guru hendaknya memiliki tiga komponen yang terintegrasi, yaitu pendidikan umum, minimal satu bidang spesialisasi dan keahlian dalam kurikulum dan pengajaran. Ketiga, perkembangan calon guru dinilai selama program berlangsung dengan teknik penilaian yang bervariasi. Keempat, program pendidikan guru perlu diakreditasi dengan standar yang memungkinkan calon guru bisa bekerja dengan baik. Kelima, perlu ada lembaga yang memberikan legalitas terhadap kelayakan program pendidikan guru, standar yang digunakan serta memberikan sertifikasi terhadap guru. Dengan mengacu pada National Education Assosiation (NEA) Amerika Serikat, standar pendidikan guru meliputi lima komponen pendidikan, yaitu: perencanaan, implementasi, personalia, isi program serta keanggotaan dalam profesi guru.

3. Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi

Salah satu model pendidikan guru yang mungkin bisa mencapai standar, adalah model pendidikan guru berdasarkan kompetensi (PGBK) atau competence based teacher education (CBTE). Beberapa ahli lebih setuju memakai kata performance (perubahan atau perilaku) daripada competence, karena dipandangnya lebih luas. Dalam tulisan ini keduanya dipandang sama.

4. IKIP, FKIP, STKIP Sebagai Lembaga Pendidikan Guru

Di Indonesia dewasa ini, kita mempunyai dua kelompok lembaga pendidikan guru, yaitu: IKIP, FKIP, dan STKIP yang merupakan lembaga pendidikan guru pada jenjang perguruan tinggi, dan PGA pada jenjang pendidikan menengah. Sebelumnya pada jenjang pendidikan menengah juga ada SPG dan SGO yang menyiapkan calon-calon guru sekolah dasar.

laporan bacaan 8

 Nama & Nim : Norman safutra 11901045

Judul Buku : Peningkatan Kompetensi Guru

Penulis : Dr. Jejen Musafah M.A

Penerbit : PT Bulan Bintang

Tahun Terbit : November 2011

Tebal Halaman : 278 halaman

PENDAHULUAN

Buku yang dilaporkan adalah buku yang berjudul Peningkatan Kompetensi Guru Buku ini diterbitkan pada November 2011 dan diterbitkan oleh Dr. Jejen Musafah M.A dengan tebal 278 halaman.

Buku ini menjelaskan 4 Kompetensi Profesional yang dimiliki oleh seorang guru, sesuai dengan bagian yang saya baca saja yang terdapat pada halaman 45. Sebenarnya buku ini sangat lengkap apabila dibaca dengan seksama dari awal samapai akhir yang mana materinya mencakup kompetensi kompetensi apa saja yang dimiliki oleh  seorang pengajar atau guru.

Materi dalam buku ini disajikan dalam beberapa bab yang selalu didahului oleh penjelasan isi bab dan tujuan instruksional yang dapat dijadikan patokan oleh pembaca untuk memahami materi setiap sub. Di akhir bab, dikemukakan pula pendalaman materi mengenai simpulan, implikasi dan rekomendasi Adapun cakupan materi secara umum yang dibentangkan dalam buku ini antara lain:

Hakikat kompetisi guru, empat Kompetensi guru profesional, fungsi pelatihan, karakteristik seorang guru,merencanakan pelatihan dan lain-lain.

Menurut saya, buku yang berjudul peningkatan Kompetensi Guru yang di tulis oleh Dr. Jejen Musafah M.A pada November 2011 ini, disusun dengan komposisi materi yang sesuai dengan kebutuhan perkuliahan Bahasa Indonesia di Perguruan tinggi, selain Itu bahasa yang di gunakan di dalam buku ini, meenggukan bahasa bahasa yang mudah di pahami.

Adapun cakupan materi yang telah saya baca, pada bagian bab 3 yang terdapat di halaman 30-54 mengenai : 4 kompetensi yang dimiliki oleh guru profesional adalah :


1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi Pedagogik Guru adalah kemampuan atau keterampilan guru yang bisa mengelola suatu proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar dengan peserta didik.

Kompetensi Pedagogik bisa diperoleh melalui proses belajar masing-masing guru secara terus menerus dan tersistematis, baik sebelum menjadi guru maupun setelah menjadi guru.

2. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi Kepribadian berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hukum, dll.

Kepribadian positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya supaya memiliki attitude yang baik.

3. Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional Guru adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik. Keterampilannya berkaitan dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan langsung dengan kinerja guru. Dengan demikian, guru mampu membimbing seluruh peserta didiknya untuk mencapai standar kompetensi yang sudah ditentukan dalam Standar Nasional Pendidikan.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi Sosial berkaitan dengan keterampilan komunikasi, bersikap dan berinteraksi secara umum, baik itu dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, hingga masyarakat secara luas.

laporan bacaan 7

 Nama : Norman Safutra

Nim  : 11901045

Kelas  : PAI 4/D

Mata Kuliah  : Magang 1

Dosen Pengampu  : Farninda Aditya, M,Pd.



EMPAT KOMPETENSI GURU


Kompetensi guru dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. Seorang guru dituntut memiliki kompetensi atau kemampuan dalam ilmu yang dimilikinya. Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif, karena seorang guru tidak hanya terampil dalam mengajar tetapi tentu juga harus memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, social dan spiritual yang secara keseluruhan membentuk kompetensi standar kompetensi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik pembelaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.


Empat kompetensi guru perlu dipahami dan dan dihayati bagi setiap guru maupun calon guru. Dengan penguasaan kompetensi pedagogis, kepribadian, social dan professional maka guru dapat melakukan hal yang semestinya dilakukan guru yang tentunya sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini perlu dipahami supaya sedikit demi sedikit dapat menghilangkan persepsi bahwa tugas guru hanyalah sebagai fasilitator menyampaikan materi atau sekedar mentransfer pengetahuan. Dengan demikian tujuan pendidikan yang telah dibuat bersama dapat tercapai.


Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain : kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi social dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidkan profesi. Keempat kempetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.


1. Kompetensi pedagogik


Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 


Kompetensi pedagogik meliputi :


a. Pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan


b. Guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik


c. Guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus


d. Guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran


e. Mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif


f. Mampu melakukan evaluasi hasil belajar


g. Mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik


2. Kompetensi kepribadian


Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian seorang guru.


Kompetensi kepribadian meliputi :


a. Mantap dan stabil


b. Dewasa


c. Arif dan bijaksana


d. Berwibawa


e. Akhlak mulia


3. Kompetensi social


Kompetensi social merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi, berintegrasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Sebagai makhluk social, guru harus berperilaku santun, mampu berkomunikasi dan berintegrasi dengan baik.


4. Kompetensi professional 


Kompetensi professional mengacu pada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. mengenai penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan subtansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.



SUMBER REFERENSI :


-Damax Dyah Kirana, Pentingnya Penguasaan Empat Kompetensi Guru Dalam Menunjang Ketercapaian Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar.


-https://ibnufajar75.wordpress.com/2012/12/27/empat-kompetensi-yang-harus-dimiliki-seorang-guru-profesional/

laporan bacaan 6

 Nama : Norman Safutra

Nim: 11901045

Kelas: PAI 4D

Makul: Magang 1

LAPORAN BACAAN JURNAL



Identitas Jurnal:

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul: STRATEGI BELAJAR & PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BAHASA

Penulis: Fatimah dan Ratna Dewi Kartika Sari

Sumber: https://jurnal.umj.ac.id/index.php/penaliterasi

Volume 1 nomor 2 oktober 2018


STRATEGI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, 

Baiklah pada kesempatan kali ini, Pada tugas kedua makul Magang 1 ini saya akan melaporkan hasil bacaan yang saya baca di jurnal Strategi belajar dan Pembelajaran dalam Meningkatkan Keterampilan Bahasa sebagai berikut,

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dan lingkungan. Pembelajaran merupakan sebuah kata belajar yang diberikan imbuhan pe dan an, yang berarti pembelajaran adalah sebuah peningkatan pengetahuan, proses mengingat, dan proses mendapatkan sebuah fakta-fakta atau keterampilan yang dapat dikuasai serta digunakan sesuai dengan kebutuhan. Pembelajaran juga merupakan suatu proses memahami atau mengabstraksikan suatu makna, penafsiran dan pemahaman akan realitas dalam sebuah cara yang berbeda. 

Dalam pembelajaran bahasa khususnya Bahasa Indonesia, diperlukan beberapa hal yang memacu individu atau kelompok agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan sasaran atau sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan. Berbagai macam teknik, metode, dan strategi pembelajaran membutuhkan banyak pemikiran dan analisa untuk menjelaskan hal tersebut secara satu per satu. Pembelajaran bahasa yang efektif didasari dengan sebuah strategi yang tepat.

strategi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua (1989), strategi merupakan suatu ilmu dan seni yang menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan sebuah kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. 

strategi pembelajaran menjadi faktor utama dalam meningkatkan proses pembelajaran dan keterampilan bahasa. Strategi yang terencana memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Agar strategi tersebut tidak menjauh dari sasaran yang ingin dicapai perlu pemahaman yang lebih baik dalam kegiatan pembelajaran bahasa. Strategi yang berhubungan secara langsung antara pengajar dan peserta didik sehingga menimbulkan stimulus dan respon sangat berperan penting. Komponen program pengajaran yang berpusat pada pengajar, peserta didik dan materi pengajaran juga perlu diterapkan agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Strategi yang berpusat pada peserta didik merupakan strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif sehingga pengajar hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator. 

O’Malley dan Chamot (1990) mengatakan bahwasanya strategi itu adalah seperangkat alat yang melibatkan individu secara langsung untuk mengembangkan bahasa kedua atau bahasa asing. Strategi sering dikaitkan dengan prestasi bahasa dan kecakapan dalam menggunakan bahasa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) Pendekatan adalah proses, perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan merupakan suatu sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi. Metode adalah rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan tertib. Sifat sebuah metode adalah prosedural. Strategi belajar lebih mengacu pada perilaku dan proses berfikir yang digunakan serta mempengaruhi apa yang dipelajari. Strategi pembelajaran bahasa adalah tindakan melaksanakan rencana dengan menggunakan beberapa variabel seperti tujuan, bahan, metode, dan alat, serta evaluasi agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Huda (1990),  strategi belajar antara lain:

1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung. 

Strategi utama dipakai secara langsung dalam mencerna materi pembelajaran. Strategi pendukung dipakai untuk mengembangkan sikap belajar dan membantu pembelajar dalam mengatasi masalah seperti gangguan, kelelahan, frustasi, dan lain sebagainya.

2.  Strategi Kognitif dan Strategi Metakognitif 

Strategi kognitif dipakai untuk mengelola materi pembelajaran agar dapat diingat untuk jangka waktu yang lama. Strategi metakognitif adalah langkah yang dipakai untuk mempertimbangkan proses kognitif, seperti monitoring diri sendiri, dan penguatan diri sendiri.

3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.

Strategi sintaksis adalah kata fungsi, awalan, akhiran, dan penggolongan kata. 

Strategi semantik adalah berhubungan dengan objek nyata, situasi, dan kejadian.


Adapun Strategi pembelajaran berdasarkan klasifikasinya, sebagai berikut:

a. Penekanan Komponen dalam Program Pengajaran

Komponen program pengajaran antara lain yang berpusat pada pengajar, peserta didik, dan materi pengajaran. Berpusat pada pengajar, pengajar menyampaikan informasi kepada peserta didik. Teknik penyajian adalah teknik ceramah, teknik team teaching, teknik sumbang saran, teknik demonstrasi, dan teknik antar disiplin. Berpusat pada peserta didik, strategi pembelajaran seperti ini memberikan kesempatan seluas-luasnya 

kepada peserta didik untuk aktif dan berperan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai fasilitator dan motivator. 

Teknik penyajian adalah teknik diskusi, teknik kerja kelompok, teknik penemuan, teknik eksperimen, teknik kerja lapangan, dan teknik penyajian kusus. Berpusat pada 

materi pengajaran, materi terbagi dua yaitu materi formal dan materi informal.

b. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian, baik berupa 

bahan tertulis maupun penjelasan secara verbal. Strategi pembelajaran heuristik 

adalah sebuah strategi yang menyiasati agar aspek-aspek dari komponen-komponen 

pembentuk sistem intruksional mengarah kepada pengaktifan peserta didik untuk mencari dan menemukan fakta, prinsip, serta konsep yang mereka butuhkan.

c. Pengelohan Pesan atau Materi 

dapat dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah mulai dari hal umum menuju kepada hal khusus. Contohnya ketika pengajaran tentang kalimat tunggal, maka dimulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi pembelajaran induksi adalah pesan diolah mulai dari hal-hal yang khusus menuju kepada konsep yang bersifat umum. Contohnya ketika pengajaran tentang kalimat tunggal, maka dimulai dengan memberikan contoh-contoh kalimat tunggal, ciri-ciri kalimat tunggal sehingga peserta didik dapat mendefinisikan sendiri tentang kalimat tunggal.

d.  Memproses Penemuan 

Dapat dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian yang dapat berupa bahan tertulis atau penjelasan verbal. Strategi penemuan (discovery) adalah proses yang mampu mengasimilasikan sebuah konsep atau prinsip. Seperti mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan membuat kesimpulan.


Strategi Keterampilan Berbahasa

Sebagian besar, bahasa dipergunakan pada aktivitas manusia sehari-hari. Semakin tinggi tingkat penguasaan bahasa seseorang, semakin baik pula penggunaan bahasa dalam berkomunikasi. Penggunaan berbagai teknik dan metode yang inovatif dapat menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. Melalui proses pembelajaran yang dinamis, diharapkan akan tercipta suatu bentuk komunikasi lisan yang terpola melalui keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. 

1. Strategi Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Keterampilan menyimak adalah satu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Keterampilan menyimak pada tahapan lebih tinggi mampu menginformasikan kembali pemahamannya malalui keterampilan berbicara maupun menulis. Strategi pembelajaran menyimak sebagai berikut: 

a. pemberian informasi tertentu, dalam hal ini peserta didik mendengarkan sebuah informasi, dan melihat demonstrasi serta mencatat.

b. Interaksi, dalam hal ini peserta didik diberikan contoh lalu mencontohkan dan mengulangi secara lebih kreatif beserta tanya jawab. 

c. Secara independen, peserta didik melakukan kegiatan tertentu seperti, menyimak rekaman berupa model, melakukan indentifikasi dan klasifikasi dari suatu bentuk interaksi/percakapan yang nyata.

Evaluasi kemampuan menyimak dapat dilakukan seperti tes melalui rekaman, tes dalam bentuk tanya jawab, wawancara, menjawab isi dialog, menjawab pertanyaan yang berkenaan dengan drama yang baru ditonton, dan bentuk tes lainnya.

2. individu. Strategi Pembelajaran Keterampilan Berbicara

 Keterampilan berbicara  merupakan keterampilan memproduksi arus sistem 

bunyi artikulasi untuk menyampaikan suatu kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Keterampilan berbicara diawali dengan adanya pemahaman minimal dari pembicara dalam membentuk sebuah kalimat. Sebuah kalimat, betapa pun kecilnya, memiliki struktur dasar yang saling berkaitan satu sama lain sehingga mampu menyajikan sebuah makna. Strategi pembelajaran berbicara merujuk pada prinsip stimulus dan respons. Teknik dalam strategi pembelajaran berbicara antara lain:

a. Berbicara terpimpin meliputi frase dan kalimat, dialog, dan pembacaan puisi.

b. Berbicara semi-terpimpin meliputi reproduksi cerita, cerita berantai, menyusun kalimat dalam sebuah pembicaraan, melaporkan isi bacaan secara lisan.

c. Berbicara bebas meliputi diskusi, drama, wawancara, berpidato, dan bermain peran.

3. Strategi Pembelajaran Keterampilan Membaca 

Keterampilan membaca itu memiliki peranan penting dalam suatu pengembangan 

pengetahuan dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia. Fakta di lapangan menunjukkan bahwasanya masyarakat di negara maju ditandai oleh berkembangnya suatu kebiasaan membaca yang tinggi. Membaca merupakan suatu kegiatan untuk 

mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Pembelajaran membaca harus memperhatikan cara berfikir teratur dan baik. Membaca melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi seperti ingatan, pemikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah.

Strategi pembelajaran membaca adalah dengan menggunakan teknik pemberian tugas membaca teks selama waktu tertentu, kemudian mengajukan pertanyaan. Tes kemampuan membaca antara lain menggunakan bentuk betul atau salahnya, melengkapi kalimat, pilihan ganda, serta pembuatan ringkasan atau rangkuman. Selain itu, strategi lain untuk meningkatkan keterampilan membaca yaitu dengan cara membaca karya sastra.

3. Strategi Pembelajaran Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis di dasari oleh penguasaan berbagai unsur kebahasaan maupun unsur di luar bahasa yang akan menjadi isi dalam tulisan. Keduanya harus terjalin sehingga dapat menghasilkan tulisan yang runtun dan padu. Keterampilan menulis merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan yang dilakukan secara tertulis. 

Isi tulisan yang diungkapkan dapat dipilih secara cermat dan disusun secara sistematis agar dapat dipahami dengan tepat. 

Tes keterampilan menulis adalah dengan membuat sebuah karangan, dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

a. Kualitas dan ruang lingkup isi

b. Organisasi dan penyajian isi

c. Komposisi

d. Kohesi dan Koherensi

e. Gaya dan bentuk bahasa

f. Tata bahasa, ejaan, tanda baca

g. Kerapihan tulisan dan kebersihan

Keterampilan menulis melibatkan unsur linguistik dan ekstralinguistik serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara tepat dan memikirkan gagasan yang akan dikemukakan.

Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa strategi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis didukung oleh teknik pengajaran yang sesuai dan perlunya penilaian keterampilan berbahasa dengan berbagai tes keterampilan untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran. Sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas dalam keterampilan berbahasa setiap individu.

Sekian dari saya

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.